Sabtu, 30 Mei 2015

Makalah Suhu



BAB I

PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang

     Suhu adalah besaran termo dinamika yang menunjukkan besarnya energi kinetik translasi rata-rata molekul dalam sistem gas ; suhu diukur dengan menggunakan termometer (kamus kimia : balai putaka : 2002). Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis,suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom  dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut. Suhu biasanya didefinisikan sebagai ukuran atau derajat panas dinginnya suatu benda atau sistem. Benda yang panas memiliki suhu yang tinggi, sedangkan benda yang dingin memiliki suhu yang rendah. Pada hakikatnya, suhu adalah ukuran energi kinetik rata-rata yang dimiliki olehmolekul-molekul sebuah benda. Sebagai contoh, ketika kita memanaskan sebuah besi atau alumanium maka akan terjadi proses pemuaian pada besi tersebut. Ketika kita mendinginkan air sampai pada suhu dibawah nol derajat maka airtersebut akan membeku. Sifat-sifat benda yang bisa berubah akibat adanya perubahan suhu disebut sifat termometrik.







BAB II
PEMBAHASAN

A.   MENGETAHUI SUHU LINGKUNGAN KERJA
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja, seperti yang dikemukakan Sedarmayanti (1996:5), yaitu:
1.        Penerangan
Berjalannya suatu perusahaan tak luput dari adanya faktor penerangan, begitu pula untuk menunjang kondisi kerja penerangan memberikan arti yang sangat penting.Salah satu faktor yang penting dari lingkungan kerja yang dapat memberikan semangat dalam bekerja adalah penerangan yang baik.Karyawan yang terlibat dalam pekerjaan sepanjang hari rentan terhadap ketegangan mata yang disertai dengan keletiah mental, perasaan marah dan gangguan fisik lainnya. Dalam hal penerangan di sini tidak hanya terbatas pada penerangan listrik tetapi juga penerangan matahari. Penerangan yang baik dapat memberikan kepuasan dalam bekerja dan tentunya akan meningkatkan produktivitas, selanjutnya penerangan yang tidak baik dapat memberikan ketidak puasan dalam bekerja dan menurunkan produktivitas. Hal ini disebabkan karena penerangan yang baik tentunya akan memudahkan para karyawan dalam melakukan aktivitas.
Ciri-ciri penerangan yang baik menurut Sofyan Assauri (1993:31) adalah sebagai berikut:
a.         Sinar cahaya yang cukup.
b.         Sinarnya yang tidak berkilau dan menyilaukan.
c.         Tidak terdapat kontras yang tajam.
d.        Cahaya yang terang.
e.         Distribusi cahaya yang merata.
f.          Warna yang sesuai.
2.        Suhu Udara
Lingkungan kerja dapat dirasakan nyaman manakala ditunjang oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang memberikan andil adalah suhu udara.Suhu udara dalam ruangan kerja merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh manajemen perusahaan agar karyawan dapat bekerja dengan menggunakan seluruh kemampuan sehingga menciptakan hasil yang optimal.
Selain suhu udara, sirkulasi udara di tempat kerja perlu diperhatikan juga.Bila sirkulasi udara baik maka udara kotor yang ada dalam ruangan bisa diganti dengan udara yang bersih yang berasal dari luar ruangan.
Berbicara tentang kondisi udara maka ada tiga hal yang menjadi fokus perhatian yaitu kelembaban, suhu udara dan sirkulasi udara.Ketiga hal tersebut sangat berpengaruh terhadap aktivitas para pekerja.Bagaimana seorang staf administrasi dapat bekerja secara optimal bila keadaan udaranya sangat gerah. Hal tersebut akhirnya dapat menurunkan semangat kerja karena dipengaruhi oleh turunnya konsentrasi dan tingkat stress karyawan. Mengenai kelembaban, suhu udara dan sirkulasi udara dijelaskan oleh Sritomo Wignosubroto (1989:45) sebagai berikut:
a.        Kelembabab
Kelembaban udara adalah banyaknya air yang terkandung di dalam udara. Kelembaban ini sangat berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur udara. Suatu keadaan di mana temperatur udara sangat panas dan kelembaban tinggi akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran.
b.         Suhu Udara
Tubuh manusia akan selalu berusaha untuk mempertahankan keadaan normal dengan suatu sistem tubuh yang sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di luar tubuh tersebut. Produktivitas manusia akan mencapi tingkat yang paling tinggi pada temperatur sekitar 24-27ºC.
c.         Sirkulasi Udara
Udara disekitar kita dikatakan kotor apabila keadaam oksigen di dalam udara tersebut telah berkurang dan bercampur gas-gas lainnya yang membahayakan kesehatan tubuh.Hal ini diakibatkan oleh perputaran udara yang tidak normal.
Kotoran udara disekitar kita dapat dirasakan dengan sesaknya pernafasan. Ini tidak boleh dibiarkan, karena akan mempengaruhi kesehatan tubuh dan akan cepat membut tubuh kita lelah. Sirkulasi udara dengan memberikan ventilasi cukup akan membantu penggantian udara kotor dengan udara bersih.
Seperti yang diungkapkan oleh Sritomo Wignjosoebroto (1989:50) pengaruh temperatur udara terhadap manusia bisa dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.1 Pengaruh Temperatur Terhadap Aktivitas Manusia
Temperature
Pengaruh Terhadap Manusia
Kurang lebih 49ºC
Temperatur yang dapat ditahan sekitar 1 jam, tetapi jauh di atas tingkat kemampuan fisik dan mental. Lebih kurang 30ºC aktiviatas mental dan daya tanggap cenderung membuat kesalahan dalam pekerjaan. Timbul kelelahan fisik dan sebagainya
Kurang dari 30ºC
Aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun dan cenderung untuk membuat kesalahan dalam pekerjaan dan menimbulkan kelelahan fisik
Kurang lebih 24ºC
Yaitu kondisi optimum (normal) bagi manusia
Kurang dari 24ºC
Kelakuan ekstrim mulai muncul
Sumber: Sritomo Wignjosoebroto (1989:50)

Alat Ukur Suhu
Secara kualitatif, kita dapat mengetahui bahwa suhu adalah sensasi dingin atau hangatnya sebuah benda yang dirasakan ketika menyentuhnya. Secara kuantitatif, kita dapat mengetahuinya dengan menggunakan termometer. Suhu dapat diukur dengan menggunakan termometer yang berisi air raksa atau alkohol. Kata termometer ini diambil dari dua kata yaitu thermo yang artinya panas dan meter yang artinya mengukur (to measure).
Termometer yang sering digunakan
Termometer yang biasanya digunakan untuk mengukur suhu sebagai berikut:
1. Termometer bulb (air raksa atau alkohol)
Menggunakan gelembung besar (bulb) pada ujung bawah tempat menampung cairan, dan tabung sempit (lubang kapiler) untuk menekankan perubahan volume atau tempat pemuaian cairan. Berdasar pada prinsip suatu cairan volumenya berubah sesuai temperatur. Cairan yang diisikan kadang-kadang alkohol yang berwarna tetapi juga bisa cairan metalik yang disebut merkuri, keduanya memuai bila dipanaskan dan menyusut bila didinginkan
Ada nomor disepanjang tuba gelas yang menjadi tanda besaran temperatur. Keutungan termometer bulb antara lain tidak memerlukan alat bantu, relatif murah, tidak mudah terkontaminasi bahan kimia sehingga cocok untuk laboratorium kimia, dan konduktivitas panas rendah.
Kelemahan termometer bulb antara lain mudah pecah, mudah terkontaminasi cairan (alkohol atau merkuri), kontaminasi gelas/kaca, dan prosedur pengukuran yang rumit (pencelupan). Penggunaan thermometer bulb harus melindungi bulb dari benturan dan menghindari pengukuran yang melebihi skala termometer.
·      Sumber kesalahan termometer bulb:
- time constant effect, waktu yang diperlukan konduksi panas dari luar ke tengah batang kapiler
- thermal capacity effect, apabila massa yang diukur relatif kecil, akan banyak panas yang diserap oleh termometer dan mengurangi suhu sebenarnya
- cairan (alkohol, merkuri) yang terputus
- kesalahan pembacaan
- kesalahan pencelupan

2. Termometer spring
Menggunakan sebuah coil (pelat pipih) yang terbuat dari logam yang sensitif terhadap panas, pada ujung spring terdapat pointer. Bila udara panas, coil (logam) mengembang sehingga pointer bergerak naik, sedangkan bila udara dingin logam mengkerut pointer bergerak turun. Secara umum termometer ini paling rendah keakuratannya di banding termometer bulb dan digital.
Penggunaan termometer spring harus selalu melindungi pipa kapiler dan ujung sensor (probe) terhadap benturan/ gesekan. Selain itu, pemakaiannya tidak boleh melebihi suhu skala dan harus diletakkan di tempat yang tidak terpengaruh getaran.
3. Termometer non kontak
Termometer infra merah, mendeteksi temperatur secara optik selama objek diamati, radiasi energi sinar infra merah diukur, dan disajikan sebagai suhu, dengan mengetahui jumlah energi infra merah yang dipancarkan oleh objek dan emisinya, temperatur objek dapat dibedakan.
4. Termometer elektronik
Ada dua jenis yang digunakan di pengolahan, yakni thermocouple dan resistance thermometer. Biasanya, industri menggunakan nominal resistan 100 ohm pada 0 °C sehingga disebut sebagai sensor Pt-100. Pt adalah simbol untuk platinum, sensivitas standar sensor 100 ohm adalah nominal 0.385 ohm/°C, RTDs dengan sensivitas 0.375 dan 0.392 ohm/°C juga tersedia.
Satuan Suhu
Mengacu pada SI, satuan suhu adalah Kelvin (K). Skala-skala lain adalah Celsius, Fahrenheit, dan Reamur. Pada skala Celsius, 0 °C adalah titik dimana air membeku dan 100 °C adalah titik didih air pada tekanan 1 atmosfer. Skala ini adalah yang paling sering digunakan di dunia. Skala Celsius juga sama dengan Kelvin sehingga cara mengubahnya ke Kelvin cukup ditambahkan 273 (atau 273.15 untuk lebih tepatnya).
Skala Fahrenheit adalah skala umum yang dipakai di Amerika Serikat. Suhu air membeku adalah 32 °F dan titik didih air adalah 212 °F.
Sebagai satuan baku, Kelvin tidak memerlukan tanda derajat dalam penulisannya. Misalnya cukup ditulis suhu 20 K saja, tidak perlu 20° K.
Mengubah Skala Suhu
Cara mudah untuk mengubah dari Celsius, Fahrenheit, dan Reamur adalah dengan mengingat perbandingan C:F:R = 5:9:4. Caranya, adalah (Skala tujuan)/(Skala awal)xSuhu. Dari Celsius ke Fahrenheit setelah menggunakan cara itu, ditambahkan
  • 77 °F pada skala Celsius adalah 5/9 x (77-32) = 25
Perlu untuk kita ketahui bersama bahwa dibumi ini pernah tercatat suhu paling dingin. Suhu paling dingin di bumi pernah dicatat di Stasiun Vostok, Antarktika pada 21 Juli 1983 dengan suhu -89,2 °C.
Pengaruh Suhu terhadap Tanaman Pertanian
Fluktuasi suhu dalam tanah akan berpengaruh langsung terhadap aktivitas pertanian terutama proses perakaran tanaman didalam tanah. Apabila suhu tanah naik akan berakibat berkurangnya kandungan air dalam tanah sehingga unsur hara sulit diserap tanaman., sebaliknya jika suhu tanah rendah maka akan semakin bertambahnya kandungan air dalam tanah, dimana sampai pada kondisi ekstrim terjadi pengkristalan. Akibatnya aktivitas akar/respirasi semakin rendah mengakibatkan translokasi dalam tubuh tanaman jadi lambat sehingga proses distribusi unsur hara jadi lambat dan akhirnya pertumbuhan tanaman jadi lambat. Demikian pula dengan suhu yang terlalu tinggi terjadi aktivitas negatif seperti terjadi pembongkaran/perusakan organ. Suhu maksimal dan minimal berpengaruh terhadap hasil produksi. Hal inilah yang menyebabkan hasil panen padi Indonesia menjadi rendah.
Hubungan Suhu Bagi Pertumbuhan Tanaman.
Faktor iklim sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman. Apabila tanaman ditanam di luar daerah iklimnya, maka produktivitasnya sering kali tidak sesuai dengan yang diharapkan.Menurut Sutarno at all (1997) Studi tentang perilaku kejadian tiap organisme atau tumbuhan dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan iklim disebut dengan fenologi















B.   PENGENDALIAN SUHU LINGKUNGAN KERJA
Upaya pengendalian dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
1.    Pengendalian secara teknik
Pengukuran suhu bola atau suhu radiasi di dapatkan angka yang tinggi. Hal ini memang terjadi karena pabrik tersebut merupakan pabrik peleburan untuk menghasilkan baja. Dalam proses produksi, pabrik tersebut membutuhkan bara api dengan suhu yang sangat tinggi kurang lebih sebesar 17000C. Pengadaan ventilasi umum diharapkan panas yang menyebar secara radiasi, konduksi dan konveksi ke seluruh ruang kerja dapat mengalir keluar dimana suhu udaranya lebih rendah. Tetapi yang terjadi secara terus menerus dan kontinyu, sehingga pengadaan ventilasi umum dirasakan kurang. Untuk itu perusahaan membuat fan dengan tujuan mengalirkan panas secara konveksi ke tempat dengan suhu udara yang lebih rendah.
           
2.    Pengendalian secara administrarif
kerja yang panas membutuhkan tenaga kerja yang fit, kesegaran jasmani baik, status kesehatan baik dan status gizi baik. Berdasar data yang didapat bahwa tenaga kerja yang bekerja tidak di periksa kesehatannya saat baru masuk kerja.Sebaiknya pemeriksaan kesehatan awal diberikan terhadap tenaga kerja yang baru masuk agar tenaga kerja sesuai dengan pekerjaannya (the right man on the right job).
Peleburan baja merupakan perusahaan dengan kategori perusahaan berat dengan jumlah tenaga kerja secara keseluruhan lebih dari 500 orang sehingga pengadaan poliklinik harus ada disertai dengan dokter penuh waktu dan dibantu dengan paramedis penuh waktu Pemberian asuransi terhadap tenaga kerja dengan kategori perusahaan berat harus ada, perusahaan tersebut telah mengikut sertakan tenaga kerjanya dalam Jamsostek dengan program seperti pada hasil. Kamar mandi yang tersedia untuk tenaga kerja yang banyak tersebut tergolong cukup.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Perburuhan no. 7 tahun 1964, dikatakan bahwa kakus untuk tenaga kerja sebesar 81–100 orang harus tersedia sebanyak 6 kakus diikutindengan syarat kesehatan lainnya.Organisasi ketenaga kerjaan di perusahaan tersebut telah terbentuk yaitu P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan Dan KesehatanKerja) dan SPSI. Organisasi ini dibentuk berdasarkan komitmen direktur terhadap tenaga kerjanya. P2K3
diketuai oleh direktur dengan anggota para tenaga kerja. Dengan adanya organisasi ini diharapkan masalah yang berhubungan dengan K3 dapat diatasi.
Sehingga pengendalian secara administratif yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan berkala, poliklinik
Dibuka selama 7 hari/minggu, dokter perusahaan hadir paruh waktu (3hari/minggu), paramedis hadir penuh waktu, tenaga kerja ikut menjadi peserta Jamsostek (JKK, JK, JHT, JPK), jam kerja selama 8 jam/hari atau 40 jam/minggu, jam istirahat selama 1 jam/hari,adanya organisasi P2K3 dan SPSI, tenaga kerja mendapat makan dan minum berkaitan dengan tempat kerja yang panas, perusahaan memiliki ruang makan untuk tenaga kerja,kamar mandi sebanyak 6 buah untuk pria dan sebuah untuk wanitadengan jumlah tenaga kerja keseluruhan 470 tenaga kerja pria dan 13 wanita.



3.    Penggunaan alat pelindung diri

Pengadaan alat pelindung diri (APD) dirasakan kurang. Helm sebaiknya harus diberi bila ada kerusakan, tidak hanya diberi 1 saja
selam tenaga kerja bekerja di perusahaan tersebut. Masker penutup  hidung dan mulut sebaiknya diberi setiap hari. Masker yang terbuat
dari kain serap akan cepat lusuh dan rusak bila dipakai seharian apalagi perusahaan tersebut menghasilkan debu. Demikian pula dengan sepatu dan pakaian kerja. Khususnya sepatu kerja sebaiknya diberi saat tenaga kerja tersebut mengeluh sepatunya rusak akibat adanya letikan api dari peleburan metal. Pemberian APD hendaknyadiberi konsisten dan konsekuen agar tenaga kerja terhindar daribahaya di tempat kerja.Pemberian pakaian kerja setiap enam bulan sekali.

C.   MENGEVALUASI SUHU LINGKUNGAN KERJA

Evaluasi bahaya kerja adalah suatu proses yang dilaksanakan untuk dapat menempakanseberapa besar risiko bahaya kerja yang ditemukan ditempat kerja. Berdasarkan hasil pengukuran objektif yang telah disimpulkan,pada tahap berikutnya dapatdiperkirakan akibat yang ditimbulkan oleh bahaya kerja yang ditemukan,besarnyakemungkinan dan frekuensi terjadinya gangguan kesehatan/kecelakana kerja,serta derajat pajanan bahaya kerja yang terjadi.
1)   Pengukuran potensi pajanan bahaya kerja
Tidak semua potensi pajanan bisa diukur. Pengukuran potensi pajanan bahaya kerja biasadilaksanakan untuk menentukan potensi pajanan bahaya kerja kimiawi dalam bentuk debu/uap di lingkungan tempat kerja dan bahaya kerja fisik akibat kebisingan dan sinarradioaktif.

Pada pajanan debu/uap dilingkungan kerja,dosis pajanan bahaya kerja yang diterima individu tergantung dari faktor-faktor,yaitu:
a.   Jenis bahaya kerja (toksisitas,ukuran partikel diudara,terdapatnya kontaminasi lain ditempatkerja)
b.   Derajat pajanan bahaya kerja
c.   Lama terjadinya pajanan bahaya kerja
d.   Kerentanan individu
e.   Penggunaan alat pelindung diri (respirator,baju kerja,dan lain lain) Pengukuran dosis pajanan bahaya kerja dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
a)   Pemantauan lingkungan kerja
Pemantauan lingkungan kerja (environmental monitoring) akan memberikan informasi dasartentang luas dan besarnya potensi suatu pajanan bahaya kerja ditempat kerja. Hasilpengukuran konsentrasi / derajat pajanan direkomendasikan dalam acuan resmi.pemantauanini dapat dilaksanakan dalam bentuk :
a.    Personal breathing zone sampling
b.    Positional/ fixed monitoring
Untuk melakukan pengambilan contoh (sampling) debu/uap kerja kita perlumempertimbangkan beberapa hal,yakni:a.
a)    Lokasi alat pengumpul debu/uap kerja harus diletakan
b)    Pekerja yang harus diukur
c)    Jumlah alat pengumpul debu/uap kerja yang diperlukan
d)    Lamanya,frekuensi dan waktu pengambilan contoh.
b)  Pemantauan biologis
Pemantauan biologis (biological monitoring) merupakan pengukuran suatu zat kimiawitertentu / metabolitnya pada cairan tubuh (darah /urine/hembusan udara pernafasan) untuk menilai derajat pajanan pada suatu bahaya kerja tertentu. Pemantauan ini berperan pentingdalam beberapa strategi evaluasi bahaya kerja, terutama dalam menginformasikan secarakuantitatif jumlah zat kimiawi yang diabsorbsi secara bersama-sama oleh tubuh dari beberaa jalan masuk ketubuh (inhalasi,melalui kulit,peroral).

Analisis derajat risiko bahaya
Analisis derajat risiko bahaya kerja untuk menentukan beratnya resiko dan bahay kerja untuk menentukan beratnya resiko dan besarnya kemungkinan bahaya kerja yang akan terjadi.
           
Klasifikasi berat risiko bahaya kerja yang terjadi :
a)   Sangat berat (catasthropic)-menyebabkan kematian/kehancuran seluruh propertibeserta fasilitas yang ada di dalamnya.
b)   Berat (critical)-mengakibatkan gangguan kesehatan akibat kerja yang berat ataukerusakan properti dalam skala besar.
c)   Sedang (marginal)- mengakibatkan gangguan kesehatan akibat kerja yang ringanbiasanya, biasanya mengakibatkan pekerja tidak dapat masuk kerja untuk beberapahari, atau kerusakan roperti dalam skala kecil.
d)  Ringan (negligible)- kemungkinan tidak berpengaruh terhadap kesehatan dankeselamatan pekerja,tapi jelas dalam kondisi yang menyalahi syarat syarat kesehatankerja yang baik.

Klasifikasi kemungkinan dan frekuensi risiko terjadinya bahaya kerja.
a)   Kemungkinan terjadinya dalam waktu yang sangat pendek setelah terpajan oleh suatubahaya kerja.
b)   Kemungkinan besar akan terjadi pada suatu waktu.
c)   Ada kemungkinan untuk terjadi pada suatu waktu.
d)  Sangat tidak mungkin terjadi.





Kategori pajanan
Tahap terakhir evaluasi bahaya kerja adalah menentukan Kategori pajanan yaitu Klasifikasi jumlah orang terpajan secara reguler terhadap suatu bahaya kerja.
a)   .> 50 orang yang terpajan secara reguler.
b)   10-49 orang yang terpajan secara reguler.
c)   5-9 orang yang terpajan secara reguler.
d)  < 5 orang yang terpaan secara regular

2)   Evaluasi dari faktor-faktor bahaya potensial pada lingkungan kerja
Sudah menjadi suatu kewajiban perusahaan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan pekerjanya. Salah satu hal yang dapat dilakukan yaitu melakukan evaluasi bahan kimia di tempat kerja yang kemudian dijadikan bahan acuan untuk membuat perencanaan.
Evaluasi Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi bahaya yang mungkin dapat ditimbulkan dari lingkungan kerja. Olehnya itu, kegiatan evaluasi ini dapat digunakan untuk menentukan prioritas dalam mengatasi permasalahan yang dapat timbul.
Kegiatan evaluasi terhadap tingkat pemajanan dan bahaya potensial di lingkungan kerja dilakukan melalui pengamatan langsung yang ditentukan secara kualitatif dan kuantitatif melalui berbagai teknik pengukuran, misalnya pengukuran tingkat kebisingan, penentuan indeks tekanan panas, kuat cahaya, analisis patikel udara di tempat kerja, dll. Hasil yg diperoleh kemudian dibandingkan dengan aturan yang berlaku yaitu Nilai Ambang Batas (NAB).
3)   Pengendalian Bahaya Potensial di Lingkungan Kerja
Kegiatan pengendalian lingkungan kerja merupakan uapaya untuk mengurangi atau menghilangkan pajanan terhadap zat/bahaya yang berbahaya di lingkungan kerja. Hal ini bisa dijelaskan dengan Teori Simpul Pengamatan/Pengendalian oleh Prof.dr. Umar Fahmi Achmadi,Ph.D yaitu

o ———– o ———— o ———— o
A                   B                   C                     D
SIMPUL A = Sumber potensi bahaya
SIMPUL B = Zat berbahaya berada di lingkungan
SIMPUL C = Zat mulai masuk tubuh
SIMPUL D = Zat mulai mempengaruhi kesehatan manusia dengan kemungkinan :
a. Tidak Menyebabkan gangguan kesehatan
b.Menimbulkan gangguan Kesehatan dengan kemungkinan individu jelas sakit atau Gejalanya Samar-samar/subklinis.
Simpul – Simpul diatas merupakan simpul pengamatan sekaligus merupakan simpul pengendalian, misalnya :
a. Pada Simpul A, tindakan yang perlu dilakukan, idealnya adalah menghilangkan sumber, bila tak mungkin dengan cara substitusi bahan yang kurang berbahaya.
b.Pada Simpul B, misalnya uap berbahaya yang berada di ruangan dihilangkan dengan jalan menghisap keluar (exhauster ventilation) / menggunakan ventilasi yg baik.
c. Pada Simpul C yakni pada saat akan memasuki tubuh manusia, misalnya dapat dicegah dengan pakaian pelindung/alat pelindung diri.
d. Pada Simpul D, bila zat yang berbahaya terlanjur masuk tubuh maka dilakukan Bio marker (Penanda biologis, misalnya : darah, urine, dsb) untuk monitoring dengan standart NAB, kalau perlu dengan pemberian antagonisnya.
Pengendalian pada Simpul A dan Simpul B adalah pengendalian lingkungan, Sedangkan Pengendalian Pada Simpul C dan Simpul D merupakan Pengendalian Perorangan.
Upaya-Upaya yang dapat dilakukan dalam Pengendalian Lingkungan Kerja yaitu :
a)    Desain dan tata letak yg adekuat (konstruksi bangunan dan tata letak peralatan/material yang baik dan sesuai) sehingga pekerja dpt bekerja efisien & efektif serta dapat memberikan perlindungan yang optimal dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi pekerja.
b)    Penghilangan atau pengurangan bahan berbahaya pada sumbernya, antara lain : penghentian proses, substitusi, isolasi, ventilasi, metode basah dan tata kerumahtanggaan yang baik
Upaya-Upaya yang dapat dilakukan dalam Pengendalian Perorangan yaitu Melalui peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku serta disiplin kerja para pekerja dengan :
a.    Cara kerja yang baik dan benar.
b.   Tersedianya Alat Pelindung Diri dan ketaatan dalam pemakaiannya.
c.    Pembatasan waktu pajanan (Jam Kerja, Cuti, dll)
d.   Kebersihan perorangan.
e.    Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan secara berkala untuk penemuan dini gangguan kesehatan.
f.    Penerapan prinsip K3 dan ergonomi.
Selain pengendalian Lingkungan dan Perorangan, maka dalam menghadapi bahaya yang timbul ditempat kerja perlu diadakan Program Pelayanan Kesehatan kerja yang meliputi Pelayanan Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif.


DAFTAR PUSTAKA