BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Suhu adalah besaran termo
dinamika yang menunjukkan besarnya energi kinetik translasi rata-rata molekul
dalam sistem gas ; suhu diukur dengan menggunakan termometer (kamus kimia :
balai putaka : 2002). Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin
tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis,suhu
menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam
suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun
gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun
benda, makin tinggi suhu benda tersebut. Suhu biasanya didefinisikan sebagai
ukuran atau derajat panas dinginnya suatu benda atau sistem. Benda yang panas
memiliki suhu yang tinggi, sedangkan benda yang dingin memiliki suhu yang
rendah. Pada hakikatnya, suhu adalah ukuran energi kinetik rata-rata yang
dimiliki olehmolekul-molekul sebuah benda. Sebagai contoh, ketika kita
memanaskan sebuah besi atau alumanium maka akan terjadi proses pemuaian pada
besi tersebut. Ketika kita mendinginkan air sampai pada suhu dibawah nol
derajat maka airtersebut akan membeku. Sifat-sifat benda yang bisa berubah
akibat adanya perubahan suhu disebut sifat termometrik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
MENGETAHUI
SUHU LINGKUNGAN KERJA
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi lingkungan kerja, seperti yang dikemukakan Sedarmayanti (1996:5),
yaitu:
1. Penerangan
Berjalannya suatu perusahaan tak luput dari adanya faktor penerangan,
begitu pula untuk menunjang kondisi kerja penerangan memberikan arti yang
sangat penting.Salah satu faktor yang penting dari lingkungan kerja yang dapat
memberikan semangat dalam bekerja adalah penerangan yang baik.Karyawan yang
terlibat dalam pekerjaan sepanjang hari rentan terhadap ketegangan mata yang
disertai dengan keletiah mental, perasaan marah dan gangguan fisik lainnya. Dalam hal penerangan di sini tidak hanya terbatas pada penerangan listrik
tetapi juga penerangan matahari. Penerangan yang baik dapat memberikan kepuasan
dalam bekerja dan tentunya akan meningkatkan produktivitas, selanjutnya
penerangan yang tidak baik dapat memberikan ketidak puasan dalam bekerja dan
menurunkan produktivitas. Hal ini disebabkan karena penerangan yang baik
tentunya akan memudahkan para karyawan dalam melakukan aktivitas.
Ciri-ciri penerangan yang baik
menurut Sofyan Assauri (1993:31) adalah sebagai berikut:
a. Sinar cahaya yang cukup.
b. Sinarnya yang tidak berkilau
dan menyilaukan.
c. Tidak terdapat kontras
yang tajam.
d. Cahaya yang terang.
e. Distribusi cahaya yang
merata.
f. Warna yang sesuai.
2. Suhu Udara
Lingkungan kerja dapat dirasakan nyaman manakala ditunjang oleh beberapa
faktor, salah satu faktor yang memberikan andil adalah suhu udara.Suhu udara
dalam ruangan kerja merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh
manajemen perusahaan agar karyawan dapat bekerja dengan menggunakan seluruh
kemampuan sehingga menciptakan hasil yang
optimal.
Selain suhu udara, sirkulasi udara di tempat kerja perlu diperhatikan
juga.Bila sirkulasi udara baik maka udara kotor yang ada dalam ruangan bisa
diganti dengan udara yang bersih yang berasal dari luar ruangan.
Berbicara tentang kondisi udara maka ada tiga hal yang menjadi fokus
perhatian yaitu kelembaban, suhu udara dan sirkulasi udara.Ketiga hal tersebut
sangat berpengaruh terhadap aktivitas para pekerja.Bagaimana seorang staf
administrasi dapat bekerja secara optimal bila keadaan udaranya sangat gerah.
Hal tersebut akhirnya dapat menurunkan semangat kerja karena dipengaruhi oleh
turunnya konsentrasi dan tingkat stress karyawan. Mengenai kelembaban, suhu
udara dan sirkulasi udara dijelaskan oleh Sritomo Wignosubroto (1989:45)
sebagai berikut:
a. Kelembabab
Kelembaban udara adalah banyaknya air yang terkandung di dalam udara. Kelembaban ini sangat berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur udara. Suatu keadaan di mana temperatur udara sangat panas dan kelembaban tinggi akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran.
Kelembaban udara adalah banyaknya air yang terkandung di dalam udara. Kelembaban ini sangat berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur udara. Suatu keadaan di mana temperatur udara sangat panas dan kelembaban tinggi akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran.
b. Suhu Udara
Tubuh manusia akan selalu
berusaha untuk mempertahankan keadaan normal dengan suatu sistem tubuh yang
sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang
terjadi di luar tubuh tersebut. Produktivitas
manusia akan mencapi tingkat yang paling tinggi pada temperatur sekitar
24-27ºC.
c. Sirkulasi Udara
Udara disekitar kita dikatakan
kotor apabila keadaam oksigen di dalam udara tersebut telah berkurang dan
bercampur gas-gas lainnya yang membahayakan kesehatan tubuh.Hal ini diakibatkan
oleh perputaran udara yang tidak normal.
Kotoran udara disekitar kita
dapat dirasakan dengan sesaknya pernafasan. Ini tidak boleh dibiarkan, karena
akan mempengaruhi kesehatan tubuh dan akan cepat membut tubuh kita lelah.
Sirkulasi udara dengan memberikan ventilasi cukup akan membantu penggantian
udara kotor dengan udara bersih.
Seperti yang diungkapkan oleh
Sritomo Wignjosoebroto (1989:50) pengaruh temperatur udara terhadap manusia
bisa dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.1 Pengaruh Temperatur Terhadap Aktivitas
Manusia
|
Temperature
|
Pengaruh Terhadap Manusia
|
|
Kurang lebih 49ºC
|
Temperatur yang dapat ditahan sekitar 1 jam,
tetapi jauh di atas tingkat kemampuan fisik dan mental. Lebih kurang 30ºC
aktiviatas mental dan daya tanggap cenderung membuat kesalahan dalam
pekerjaan. Timbul kelelahan fisik dan sebagainya
|
|
Kurang dari 30ºC
|
Aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun
dan cenderung untuk membuat kesalahan dalam pekerjaan dan menimbulkan
kelelahan fisik
|
|
Kurang lebih 24ºC
|
Yaitu kondisi optimum (normal) bagi manusia
|
|
Kurang dari 24ºC
|
Kelakuan ekstrim mulai muncul
|
Sumber:
Sritomo Wignjosoebroto (1989:50)
Alat Ukur
Suhu
Secara kualitatif, kita dapat mengetahui bahwa suhu
adalah sensasi dingin atau hangatnya sebuah benda yang dirasakan ketika
menyentuhnya. Secara kuantitatif, kita dapat mengetahuinya dengan menggunakan termometer. Suhu dapat
diukur dengan menggunakan termometer yang berisi air raksa atau alkohol. Kata
termometer ini diambil dari dua kata yaitu thermo yang artinya panas dan
meter yang artinya mengukur (to measure).
Termometer
yang sering digunakan
Termometer yang biasanya digunakan untuk mengukur suhu
sebagai berikut:
1.
Termometer bulb (air raksa atau alkohol)
Menggunakan gelembung besar (bulb) pada ujung
bawah tempat menampung cairan, dan tabung sempit (lubang kapiler) untuk
menekankan perubahan volume atau tempat
pemuaian cairan.
Berdasar pada prinsip suatu cairan volumenya berubah sesuai temperatur. Cairan
yang diisikan kadang-kadang alkohol yang
berwarna tetapi juga bisa cairan metalik yang disebut merkuri, keduanya
memuai bila dipanaskan dan menyusut bila didinginkan
Ada nomor disepanjang tuba gelas
yang menjadi tanda besaran temperatur. Keutungan termometer bulb antara lain
tidak memerlukan alat bantu, relatif murah, tidak mudah terkontaminasi bahan
kimia sehingga cocok untuk laboratorium kimia, dan konduktivitas panas
rendah.
Kelemahan termometer bulb antara
lain mudah pecah, mudah terkontaminasi cairan (alkohol atau merkuri),
kontaminasi gelas/kaca, dan prosedur pengukuran yang rumit (pencelupan).
Penggunaan thermometer bulb harus melindungi bulb dari benturan dan menghindari
pengukuran yang melebihi skala termometer.
·
Sumber kesalahan termometer bulb:
- time constant effect, waktu
yang diperlukan konduksi panas dari luar ke tengah batang kapiler
- thermal
capacity effect, apabila massa yang diukur relatif kecil, akan banyak panas
yang diserap oleh termometer dan mengurangi suhu sebenarnya
- cairan (alkohol, merkuri) yang
terputus
- kesalahan pembacaan
- kesalahan pencelupan
2. Termometer
spring
Menggunakan sebuah coil
(pelat pipih) yang terbuat dari logam yang
sensitif terhadap panas, pada ujung spring terdapat pointer. Bila udara
panas, coil (logam) mengembang sehingga pointer bergerak naik,
sedangkan bila udara dingin logam mengkerut pointer bergerak turun.
Secara umum termometer ini paling rendah keakuratannya di banding termometer
bulb dan digital.
Penggunaan termometer spring harus
selalu melindungi pipa kapiler dan ujung sensor (probe) terhadap benturan/
gesekan. Selain itu, pemakaiannya tidak boleh melebihi suhu skala dan harus
diletakkan di tempat yang tidak terpengaruh getaran.
3.
Termometer non kontak
Termometer infra merah, mendeteksi temperatur secara optik
selama objek diamati, radiasi energi sinar infra merah diukur, dan disajikan
sebagai suhu, dengan mengetahui jumlah energi infra merah yang dipancarkan oleh
objek dan emisinya, temperatur objek dapat dibedakan.
4.
Termometer elektronik
Ada dua jenis yang digunakan di pengolahan, yakni thermocouple
dan resistance thermometer. Biasanya, industri menggunakan nominal
resistan 100 ohm pada 0 °C sehingga disebut sebagai sensor Pt-100. Pt
adalah simbol untuk platinum, sensivitas standar sensor 100 ohm adalah nominal
0.385 ohm/°C, RTDs dengan sensivitas 0.375 dan 0.392 ohm/°C juga tersedia.
Satuan Suhu
Mengacu pada
SI, satuan suhu adalah Kelvin (K).
Skala-skala lain adalah Celsius, Fahrenheit, dan Reamur. Pada skala
Celsius, 0 °C
adalah titik dimana air membeku dan
100 °C adalah titik didih air pada
tekanan 1 atmosfer. Skala ini
adalah yang paling sering digunakan di dunia. Skala Celsius juga sama dengan
Kelvin sehingga cara mengubahnya ke Kelvin cukup ditambahkan 273 (atau 273.15
untuk lebih tepatnya).
Skala Fahrenheit adalah
skala umum yang dipakai di Amerika Serikat. Suhu air
membeku adalah 32 °F dan titik didih air adalah 212 °F.
Sebagai
satuan baku, Kelvin tidak memerlukan tanda derajat dalam penulisannya. Misalnya
cukup ditulis suhu 20 K saja, tidak perlu 20° K.
Mengubah Skala Suhu
Cara mudah untuk mengubah dari Celsius, Fahrenheit, dan Reamur adalah
dengan mengingat perbandingan C:F:R = 5:9:4. Caranya, adalah (Skala
tujuan)/(Skala awal)xSuhu. Dari Celsius ke Fahrenheit setelah menggunakan cara
itu, ditambahkan
- 77 °F pada skala Celsius adalah 5/9 x (77-32) = 25
Perlu untuk
kita ketahui bersama bahwa dibumi ini pernah tercatat suhu paling dingin. Suhu
paling dingin di bumi pernah dicatat di Stasiun Vostok, Antarktika pada 21 Juli 1983 dengan suhu
-89,2 °C.
Pengaruh Suhu terhadap Tanaman
Pertanian
Fluktuasi suhu dalam tanah akan berpengaruh langsung
terhadap aktivitas pertanian terutama proses perakaran tanaman didalam tanah.
Apabila suhu tanah naik akan berakibat berkurangnya kandungan air dalam tanah
sehingga unsur hara sulit diserap tanaman., sebaliknya jika suhu tanah rendah
maka akan semakin bertambahnya kandungan air dalam tanah, dimana sampai pada
kondisi ekstrim terjadi pengkristalan. Akibatnya aktivitas akar/respirasi
semakin rendah mengakibatkan translokasi dalam tubuh tanaman jadi lambat
sehingga proses distribusi unsur hara jadi lambat dan akhirnya pertumbuhan
tanaman jadi lambat. Demikian pula dengan suhu yang terlalu tinggi terjadi
aktivitas negatif seperti terjadi pembongkaran/perusakan organ. Suhu maksimal
dan minimal berpengaruh terhadap hasil produksi. Hal inilah yang menyebabkan
hasil panen padi Indonesia menjadi rendah.
Hubungan Suhu Bagi Pertumbuhan
Tanaman.
Faktor iklim sangat menentukan pertumbuhan dan
produksi tanaman. Apabila tanaman ditanam di luar daerah iklimnya, maka
produktivitasnya sering kali tidak sesuai dengan yang diharapkan.Menurut
Sutarno at all (1997) Studi tentang perilaku kejadian tiap organisme atau
tumbuhan dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan iklim disebut dengan
fenologi
B.
PENGENDALIAN
SUHU LINGKUNGAN KERJA
Upaya pengendalian dapat dibedakan menjadi tiga
yaitu :
1. Pengendalian
secara teknik
Pengukuran
suhu bola atau suhu radiasi di dapatkan angka yang tinggi. Hal ini memang
terjadi karena pabrik tersebut merupakan pabrik peleburan untuk menghasilkan
baja. Dalam proses produksi, pabrik tersebut membutuhkan bara api dengan suhu
yang sangat tinggi kurang lebih sebesar 17000C. Pengadaan ventilasi
umum diharapkan panas yang menyebar secara radiasi, konduksi dan konveksi ke
seluruh ruang kerja dapat mengalir keluar dimana suhu udaranya lebih rendah.
Tetapi yang terjadi secara terus menerus dan kontinyu, sehingga pengadaan
ventilasi umum dirasakan kurang. Untuk itu perusahaan membuat fan dengan tujuan
mengalirkan panas secara konveksi ke tempat dengan suhu udara yang lebih
rendah.
2. Pengendalian
secara administrarif
kerja yang panas membutuhkan tenaga kerja yang fit,
kesegaran jasmani baik, status kesehatan baik dan status gizi baik. Berdasar
data yang didapat bahwa tenaga kerja yang bekerja tidak di periksa kesehatannya
saat baru masuk kerja.Sebaiknya pemeriksaan kesehatan awal diberikan terhadap
tenaga kerja yang baru masuk agar tenaga kerja sesuai dengan pekerjaannya (the
right man on the right job).
Peleburan baja merupakan perusahaan dengan kategori perusahaan
berat dengan jumlah tenaga kerja secara keseluruhan lebih dari 500 orang
sehingga pengadaan poliklinik harus ada disertai dengan dokter penuh waktu dan
dibantu dengan paramedis penuh waktu Pemberian asuransi terhadap tenaga kerja
dengan kategori perusahaan berat harus ada, perusahaan tersebut telah mengikut sertakan
tenaga kerjanya dalam Jamsostek dengan program seperti pada hasil. Kamar mandi
yang tersedia untuk tenaga kerja yang banyak tersebut tergolong cukup.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Perburuhan no. 7 tahun
1964, dikatakan bahwa kakus untuk tenaga kerja sebesar 81–100 orang harus
tersedia sebanyak 6 kakus diikutindengan syarat kesehatan lainnya.Organisasi
ketenaga kerjaan di perusahaan tersebut telah terbentuk yaitu P2K3 (Panitia
Pembina Keselamatan Dan KesehatanKerja) dan SPSI. Organisasi ini dibentuk berdasarkan
komitmen direktur terhadap tenaga kerjanya. P2K3
diketuai
oleh direktur dengan anggota para tenaga kerja. Dengan adanya organisasi ini
diharapkan masalah yang berhubungan dengan K3 dapat diatasi.
Sehingga pengendalian secara administratif yang perlu dilakukan
adalah pemeriksaan kesehatan berkala, poliklinik
Dibuka selama
7 hari/minggu, dokter perusahaan hadir paruh waktu (3hari/minggu), paramedis
hadir penuh waktu, tenaga kerja ikut menjadi peserta Jamsostek (JKK, JK, JHT,
JPK), jam kerja selama 8 jam/hari atau 40 jam/minggu, jam istirahat selama 1
jam/hari,adanya organisasi P2K3 dan SPSI, tenaga kerja mendapat makan dan minum
berkaitan dengan tempat kerja yang panas, perusahaan memiliki ruang makan untuk
tenaga kerja,kamar mandi sebanyak 6 buah untuk pria dan sebuah untuk
wanitadengan jumlah tenaga kerja keseluruhan 470 tenaga kerja pria dan 13
wanita.
3. Penggunaan
alat pelindung diri
Pengadaan alat pelindung diri (APD) dirasakan kurang. Helm
sebaiknya harus diberi bila ada kerusakan, tidak hanya diberi 1 saja
selam tenaga
kerja bekerja di perusahaan tersebut. Masker penutup hidung dan mulut sebaiknya diberi setiap
hari. Masker yang terbuat
dari kain
serap akan cepat lusuh dan rusak bila dipakai seharian apalagi perusahaan
tersebut menghasilkan debu. Demikian pula dengan sepatu dan pakaian kerja.
Khususnya sepatu kerja sebaiknya diberi saat tenaga kerja tersebut mengeluh
sepatunya rusak akibat adanya letikan api dari peleburan metal. Pemberian APD
hendaknyadiberi konsisten dan konsekuen agar tenaga kerja terhindar daribahaya
di tempat kerja.Pemberian pakaian kerja setiap enam bulan sekali.
C.
MENGEVALUASI
SUHU LINGKUNGAN KERJA
Evaluasi bahaya kerja
adalah suatu proses yang dilaksanakan untuk dapat menempakanseberapa besar
risiko bahaya kerja yang ditemukan ditempat kerja. Berdasarkan hasil pengukuran
objektif yang telah disimpulkan,pada tahap berikutnya dapatdiperkirakan akibat
yang ditimbulkan oleh bahaya kerja yang ditemukan,besarnyakemungkinan dan
frekuensi terjadinya gangguan kesehatan/kecelakana kerja,serta derajat pajanan
bahaya kerja yang terjadi.
1) Pengukuran potensi pajanan bahaya kerja
Tidak semua potensi pajanan bisa diukur. Pengukuran
potensi pajanan bahaya kerja biasadilaksanakan untuk menentukan potensi pajanan
bahaya kerja kimiawi dalam bentuk debu/uap di lingkungan tempat kerja dan
bahaya kerja fisik akibat kebisingan dan sinarradioaktif.
Pada pajanan debu/uap dilingkungan kerja,dosis pajanan
bahaya kerja yang diterima individu tergantung dari faktor-faktor,yaitu:
a. Jenis bahaya
kerja (toksisitas,ukuran partikel diudara,terdapatnya kontaminasi lain
ditempatkerja)
b. Derajat pajanan bahaya kerja
c. Lama terjadinya pajanan bahaya kerja
d. Kerentanan individu
e. Penggunaan
alat pelindung diri (respirator,baju kerja,dan lain lain) Pengukuran dosis
pajanan bahaya kerja dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
a) Pemantauan lingkungan kerja
Pemantauan lingkungan kerja (environmental monitoring)
akan memberikan informasi dasartentang luas dan besarnya potensi suatu pajanan
bahaya kerja ditempat kerja. Hasilpengukuran konsentrasi / derajat pajanan
direkomendasikan dalam acuan resmi.pemantauanini dapat dilaksanakan dalam
bentuk :
a. Personal
breathing zone sampling
b. Positional/
fixed monitoring
Untuk
melakukan pengambilan contoh (sampling) debu/uap kerja kita
perlumempertimbangkan beberapa hal,yakni:a.
a) Lokasi alat
pengumpul debu/uap kerja harus diletakan
b) Pekerja yang
harus diukur
c) Jumlah alat
pengumpul debu/uap kerja yang diperlukan
d) Lamanya,frekuensi
dan waktu pengambilan contoh.
b) Pemantauan biologis
Pemantauan biologis (biological monitoring) merupakan
pengukuran suatu zat kimiawitertentu / metabolitnya pada cairan tubuh (darah
/urine/hembusan udara pernafasan) untuk menilai derajat pajanan pada suatu
bahaya kerja tertentu. Pemantauan ini berperan pentingdalam beberapa strategi
evaluasi bahaya kerja, terutama dalam menginformasikan secarakuantitatif jumlah
zat kimiawi yang diabsorbsi secara bersama-sama oleh tubuh dari
beberaa jalan masuk ketubuh (inhalasi,melalui kulit,peroral).
Analisis derajat risiko bahaya
Analisis derajat risiko bahaya kerja untuk menentukan
beratnya resiko dan bahay kerja untuk menentukan beratnya resiko dan
besarnya kemungkinan bahaya kerja yang akan terjadi.
Klasifikasi berat risiko bahaya kerja yang terjadi :
a)
Sangat berat (catasthropic)-menyebabkan kematian/kehancuran seluruh
propertibeserta fasilitas yang ada di dalamnya.
b)
Berat (critical)-mengakibatkan gangguan kesehatan akibat kerja yang berat
ataukerusakan properti dalam skala besar.
c)
Sedang (marginal)- mengakibatkan gangguan kesehatan akibat kerja yang
ringanbiasanya, biasanya mengakibatkan pekerja tidak dapat masuk kerja untuk
beberapahari, atau kerusakan roperti dalam skala kecil.
d)
Ringan (negligible)- kemungkinan tidak berpengaruh terhadap kesehatan
dankeselamatan pekerja,tapi jelas dalam kondisi yang menyalahi syarat syarat
kesehatankerja yang baik.
Klasifikasi kemungkinan dan frekuensi risiko terjadinya bahaya kerja.
a)
Kemungkinan terjadinya dalam waktu yang sangat pendek setelah terpajan oleh
suatubahaya kerja.
b)
Kemungkinan besar akan terjadi pada suatu waktu.
c)
Ada kemungkinan untuk terjadi pada suatu waktu.
d)
Sangat tidak mungkin terjadi.
Kategori pajanan
Tahap terakhir evaluasi
bahaya kerja adalah menentukan Kategori pajanan yaitu Klasifikasi jumlah
orang terpajan secara reguler terhadap suatu bahaya kerja.
a) .> 50 orang yang terpajan secara reguler.
b) 10-49 orang yang terpajan secara reguler.
c) 5-9 orang yang terpajan secara reguler.
d) < 5 orang yang terpaan secara regular
2) Evaluasi dari
faktor-faktor bahaya potensial pada lingkungan kerja
Sudah menjadi suatu kewajiban perusahaan untuk
melindungi kesehatan dan keselamatan pekerjanya. Salah satu hal yang dapat
dilakukan yaitu melakukan evaluasi bahan kimia di tempat kerja yang kemudian
dijadikan bahan acuan untuk membuat perencanaan.
Evaluasi Merupakan tahap penilaian karakteristik dan
besarnya potensi bahaya yang mungkin dapat ditimbulkan dari lingkungan kerja.
Olehnya itu, kegiatan evaluasi ini dapat digunakan untuk menentukan prioritas
dalam mengatasi permasalahan yang dapat timbul.
Kegiatan evaluasi terhadap tingkat pemajanan dan
bahaya potensial di lingkungan kerja dilakukan melalui pengamatan langsung yang
ditentukan secara kualitatif dan kuantitatif melalui berbagai teknik
pengukuran, misalnya pengukuran tingkat kebisingan, penentuan indeks tekanan
panas, kuat cahaya, analisis patikel udara di tempat kerja, dll. Hasil yg
diperoleh kemudian dibandingkan dengan aturan yang berlaku yaitu Nilai Ambang
Batas (NAB).
3) Pengendalian Bahaya
Potensial di Lingkungan Kerja
Kegiatan pengendalian lingkungan kerja merupakan
uapaya untuk mengurangi atau menghilangkan pajanan terhadap zat/bahaya yang
berbahaya di lingkungan kerja. Hal ini bisa dijelaskan dengan Teori Simpul
Pengamatan/Pengendalian oleh Prof.dr. Umar Fahmi Achmadi,Ph.D yaitu
o ———– o ———— o ———— o
A
B
C
D
SIMPUL A = Sumber potensi bahaya
SIMPUL B = Zat berbahaya berada di
lingkungan
SIMPUL C = Zat mulai masuk tubuh
SIMPUL D = Zat mulai mempengaruhi kesehatan manusia
dengan kemungkinan :
a. Tidak
Menyebabkan gangguan kesehatan
b.Menimbulkan gangguan Kesehatan dengan kemungkinan
individu jelas sakit atau Gejalanya Samar-samar/subklinis.
Simpul –
Simpul diatas merupakan simpul pengamatan sekaligus merupakan simpul
pengendalian, misalnya :
a. Pada Simpul A, tindakan yang perlu dilakukan,
idealnya adalah menghilangkan sumber, bila tak mungkin dengan cara substitusi
bahan yang kurang berbahaya.
b.Pada Simpul B, misalnya uap berbahaya yang berada di
ruangan dihilangkan dengan jalan menghisap keluar (exhauster ventilation) /
menggunakan ventilasi yg baik.
c. Pada Simpul C yakni pada saat akan memasuki tubuh
manusia, misalnya dapat dicegah dengan pakaian pelindung/alat pelindung diri.
d. Pada Simpul D, bila zat yang berbahaya
terlanjur masuk tubuh maka dilakukan Bio marker (Penanda biologis, misalnya :
darah, urine, dsb) untuk monitoring dengan standart NAB, kalau perlu dengan
pemberian antagonisnya.
Pengendalian
pada Simpul A dan Simpul B adalah pengendalian lingkungan, Sedangkan
Pengendalian Pada Simpul C dan Simpul D merupakan Pengendalian Perorangan.
Upaya-Upaya
yang dapat dilakukan dalam Pengendalian Lingkungan Kerja yaitu :
a) Desain dan
tata letak yg adekuat (konstruksi bangunan dan tata letak peralatan/material
yang baik dan sesuai) sehingga pekerja dpt bekerja efisien & efektif serta
dapat memberikan perlindungan yang optimal dan tidak menimbulkan gangguan
kesehatan bagi pekerja.
b) Penghilangan
atau pengurangan bahan berbahaya pada sumbernya, antara lain : penghentian
proses, substitusi, isolasi, ventilasi, metode basah dan tata kerumahtanggaan
yang baik
Upaya-Upaya yang dapat dilakukan dalam Pengendalian
Perorangan yaitu Melalui peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku serta
disiplin kerja para pekerja dengan :
a.
Cara kerja yang baik dan benar.
b.
Tersedianya Alat Pelindung Diri dan ketaatan dalam pemakaiannya.
c.
Pembatasan waktu pajanan (Jam Kerja, Cuti, dll)
d.
Kebersihan perorangan.
e.
Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan secara berkala untuk penemuan dini
gangguan kesehatan.
f.
Penerapan prinsip K3 dan ergonomi.
Selain pengendalian Lingkungan dan Perorangan, maka
dalam menghadapi bahaya yang timbul ditempat kerja perlu diadakan Program
Pelayanan Kesehatan kerja yang meliputi Pelayanan Promotif, Preventif, Kuratif
dan Rehabilitatif.
DAFTAR
PUSTAKA