BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kemajuan teknologi meningkat maka
penggunaan bahan kimia dalam industri maupun kehidupan sehari-hari semakin
meningkat. Disamping bermanfaat
bahan kimia juga berpengaruh negatif terhadap manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan
maupun lingkungan. Aspek
kuantitas atau jumlah/dosis sangat menentukan dalam menilai toksisitas suatu
zat, seperti yang diungkapkan oleh Paraceleus (1943-1541) bahwa “All
substances are poison, there is none which is not poison, the right dose
differentiates a poison or a remedy”.
Toksikologi adalah ilmu yang menetapkan batas aman
dari bahan kimia (Casarett and Doulls, 1995). Selain itu toksikologi juga
mempelajari jelas/kerusakan/ cedera pada organisme (hewan, tumbuhan, manusia)
yang diakibatkan oleh suatu materi substansi/energi, mempelajari racun, tidak
saja efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut pada organisme dan
mempelajari kerja kimia yang merugikan terhadap organisme. Banyak sekali peran toksikologi
dalam kehidupan sehari-hari tetapi bila dikaitkan dengan lingkungan dikenal
istilah toksikologi lingkungan dan ekotoksikologi.
B. Rumusan
masalah
1. Pengertian
toksikologi ?
2. Klasifikasi Toksisitas logam?
3. mekanisme
toksisitas logam berat?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Toksikologi
Toksikologi merupakan
ilmu yang mempelajari pengaruh merugikan suatu zat/bahan kimia pada organisme hidup atau ilmu tentang racun.
Menurut ILO (1983) toksikologi
adalah : “interdiciplinary science
concern with the working and living environment”, sehingga dikenal juga
cabang keilmuan lain seperti “Industrial Toxicology“, “Neuro
behavioural Toxicology“, “Clinical Toxicology”, “Environmental
Toxicology”.
Toksisitas
logam
adalah terjadinya keracunan dalam tubuh manusia yang diakibatkan oleh bahan
berbahaya yang mengandung logam beracun. Zat-zat beracun dapat masuk ke
dalam tubuh manusia melalui pernapasan, kulit, dan mulut. Pada umumnya, logam terdapat di
alam dalam bentuk batuan, bijih tambang, tanah, air,
dan udara.[2] Macam-macam logam beracun yaitu raksa/merkuri (Hg), kromium (Cr), kadmium (Cd), arsene (As), dan timbal (Pb).[3] Walaupun kadar logam dalam tanah,
air, dan udara rendah, namun dapat meningkat apabila manusia menggunakan
produk-produk dan peralatan yang mengandung logam, pabrik-pabrik yang
menggunakan logam, pertambangan logam, dan pemurnian logam.[3] Contohnya penggunaan 25.000-125.000
ton raksa per tahun pada pabrik termometer, spigmanometer, barometer, baterai, saklar elektrik, dan peralatan elektronik.[2]
Sedikitnya terdapat 80 jenis dari 109 unsur
kimia di muka bumi ini yang telah teridentifikasi sebagai jenis logam berat.
Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat ini dapat dibagi dalam dua
jenis. Jenis pertama adalah logam berat esensial, di mana keberadaannya dalam
jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang
berlebihan dapat menimbulkan efek racun. Contoh logam berat ini adalah Zn, Cu,
Fe, Co, Mn dan lain sebagainya. Sedangkan jenis kedua adalah logam berat tidak
esensial atau beracun, di mana keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui
manfaatnya atau bahkan dapat bersifat racun, seperti Hg, Cd, Pb, Cr dan
lain-lain.
Logam berat adalah bahan-bahan alami yang berasal dan termasuk
bahan penyusun lapisan tanah bumi. Logam berat tidak dapat diurai
atau dimusnahkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh mahluk hidup melalui
makanan, air minum, dan udara. Logam berat berbahaya karena cenderung
terakumulasi di dalam tubuh mahluk hidup. Laju akumulasi logam-logam berat ini
di dalam tubuh pada banyak kasus lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk
membuangnya. Akibatnya keberadaannya di dalam tubuh semakin tinggi, dan dari
waktu ke waktu memberikan dampak yang makin merusak.
Logam adalah unsur alam yang dapat diperoleh
dari laut, erosi batuan tambang, vulkanisme dan sebagainya (Clark, 1986). Umumnya
logam-logam di alam ditemukan dalam bentuk persenyawaan dengan unsur lain,
sangat jarang yang ditemukan dalam elemen tunggal. Unsur ini dalam kondisi suhu
kamar tidak selalu berbentuk padat melainkan ada yang berbentuk cair, misalnya
merkuri (Hg). Dalam badan perairan, logam pada umumnya berada dalam bentuk
ion-ion, baik sebagai pasangan ion ataupun dalam bentuk ion-ion tunggal.
Sedangkan pada lapisan atmosfir, logam ditemukan dalam bentuk partikulat,
dimana unsur-unsur logam tersebut ikut berterbangan dengan debu-debu yang ada
di atmosfir (Palar, 2004). Menurut Palar (2004) melihat bentuk dan kemampuannya
setiap logam haruslah memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a) Memiliki
kemampuan yang baik sebagai penghantar daya listrik (konduktor)
b) Memiliki
kemampuan sebagai penghantar panas yang baik.
c) Memiliki
rapatan yang tinggi.
d) Dapat
membentuk alloy dengan logam lainnya.
e) Untuk
logam yang padat, dapat ditempa dan dibentuk.
Berbeda
dengan logam biasa, logam berat adalah istilah yang digunakan secara umum untuk
kelompok logam berat dan metaloid yang densitasnya lebih besar dari 5 g/cm3
(Hutagalung et al., 1997). Dalam perairan, logam berat dapat ditemukan dalam
bentuk terlarut dan tidak terlarut. Logam berat terlarut adalah logam yang
membentuk komplek dengan senyawa organik dan anorganik, sedangkan logam berat
yang tidak terlarut merupakan partikel-partikel yang berbentuk koloid dan
senyawa kelompok metal yang teradsorbsi pada partikel-partikel yang tersuspensi
(Razak, 1980).
Menurut
Darmono (1995) sifat logam berat sangat unik, tidak dapat dihancurkan secara
alami dan cenderung terakumulasi dalam rantai makanan melalui proses
biomagnifikasi. Pencemaran logam berat ini menimbulkan berbagai permasalahan
diantaranya:
1.
berhubungan dengan estetika
(perubahan bau, warna dan rasa air),
2.
berbahaya bagi kehidupan
tanaman dan binatang,
3.
berbahaya bagi kesehatan
manusia,
4.
menyebabkan kerusakan pada
ekosistem.
1. Tingkatan konsumsi dan banyaknya logam di alam
Umumnya, makin tinggi kadar logam yang terdapat di alam, makin tinggi pula efek keracunan yang ditimbulkan oleh logam tersebut. Contohnya, kadmium dalam satu dosis tunggal dan besar dapat menginduksi gangguan saluran pencernaan. Asupan kadmium yang berjumlah lebih kecil dapat mengakibatkan gangguan fungsi ginjal
2. Bentuk kimia
Senyawa anorganik merkuri berpengaruh pada ginjal, sedangkan senyawa metil merkuri dan etil merkuri akan berpengaruh pada susunan saraf. Pada saat ini, senyawa merkuri bersifat lipofitik, sehingga meracuni darah dan otak. Senyawa tetra etil timbal juga dapat memengaruhi susunan saraf
3. Kompleks protein-logam
Berbagai kompleks protein - logam dibentuk dalam tubuh. Contohnya, kompleks protein-logam yang dibentuk dengan timbal, bismut, dan raksa-selenium secara mikroskopik dapat terlihat sebagai badan inklusi dalam sel yang tercemar logam. Besi dapat bergabung dengan protein untuk membentuk feritin yang bersifat larut dalam air atau hemosiderin yang tidak larut dalam air. Kadmium dan beberapa logam lain, seperti tembaga dan zink bergabung dengan metalotionein, suatu protein dengan bobot molekul rendah. Kompleks protein kadmium (Cd) tidak begitu beracun, jika dibandingkan dengan Cd2+.[4] Tetapi, dalam sel tubulus ginjal, kadmium-metalotionein melepaskan Cd2+ dan menyebabkan keracunan.
4. Faktor usia dan berat badan
Pada orang yang usianya muda,seperti anak-anak, biasanya lebih rentan diserang keracunan logam daripada orang dewasa.[5] Hal ini disebabkan karena kepekaan dan tingkat penyerapan dalam saluran pencernaan pada mereka lebih besar. Selain itu, pada anak-anak yang mempunyai berat badan sangat kecil, lebih mudah diserang oleh racun logam.[5] Faktor-faktor diet yang menyebabkan defisiensi protein, vitamin C, dan vitamin D dapat meningkatkan keracunan logam. Logam timbal dan merkuri, dapat melintasi plasenta dan memengaruhi janin.[5] Dari penelitian, bayi yang terkena racun logam dalam kandungan ibunya, akan dipengaruhi secara berlebihan daripada ibunya
B. Klasifikasi Toksisitas
Klasifikasi
toksisitas sangat bervariasi, misalnya berdasarkan sifat fisik, pengaruh
terhadap tubuh, lama terjadinya pemajanan atau pada tingkat efek racunnya.
Menurut sifat fisiknya dikenal :
Sifat - sifat fisik zat dapat
pula digolongkan menjadi padat (padat biasa, fume, asap, debu), cair (cair
biasa, awan, kabut) dan gas (uap, gas). Sedang bahan kimia di udara
menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi :
·
Bahan bersifat partikel : debu, awan, fume, kabut.
·
Bahan bersifat non
partikel : gas, uap.
Terhadap tubuh bahan-bahan
kimia tersebut digolongkan dalam klasifikasi fisiologis sebagai berikut :
Ø
Bahan partikel yang bersifat : perangsang (kapas, sabun, bubuk beras), toksik (Pb, As,
Mn), fibrosis (Kwarts, asbes), allergen (tepung sari, kapas), menimbulkan demam
(Fume, Zn O), inert (Alumunium, kapas).
Ø
Bahan non partikel yang bersifat : asfiksian (metan, helium), perangsang (amoniak, Hcl, H2S),
racun anorganik, organik (TEL, As, H3), mudah menguap yang : berefek
anesthesi (Trichloroetilen), merusak alat dalam (C C14), merusak darah (Benzene),
merusak saraf (Parathion).
Menurut lama terjadinya pemajanan, dapat dibedakan
dalam akut, contoh kecelakaan kerja/keracunan mendadak, subkronik misalnya
proses kerja dengan bahan kimia selama 1 tahun/lebih atau kronik misal
bekerja untuk jangka waktu lama dengan bahan kimia.
C. Mekanisme toksisitas logam berat
Dalam bidang
kesehatan kerja, dikenal istilah keracunan akut dan keracunan kronis. Keracunan
akut didefinisikan sebagai suatu bentuk keracunan yang terjadi dalam jangka
waktu yang singkat atau sangat singkat. Peristiwa keracunan akut ini terjadi
apabila individu atau biota secara tidak sengaja menghirup atau menelan bahan
beracun dalam jumlah yang besar. Adapun keracunan Kronis di definisikan dengan
terhirup atau tertelannya bahan beracun dalam dosis rendah tetapi dalam jangka
waktu yang panjang.
Kasus-kasus
keracunan yang disebabkan oleh logam berat, sering terjadi pada orang-orang
yang bekerja dalam bidang industri, di laboratorium, bidang pertanian dan
pembangunan. Peristiwa keracuanan itu biasanya di sebabkan oleh kelalaian
penderita ataupun oleh kecelakaan kerja.
Keracunan
akut yang disebabkan oleh logam-logam berat yang berkenaan dengan lingkungan
kerja dapat dicontohkan sebagai berikut : Keracuanan dalam bidang industri,
biasanya terjadi sebagai akibat dari kecelakaan, misalnya peledakan pipa dan
tangki, kebocoran yang tiba-tiba dari uap logam, selain itu kerusakan sistem
ventilasi. Terhirupnya uap logam-logam yang berkosentrasi tinggi akan
menyebabkan iritasi pada jalan pernafasan dan bila dibiarkan akan sampai
keparu-paru. Pada keracunan akut, kosentrasi tinggi ini dapat mengakibatkan
kematian secara seketika. Sebagai contoh, keracunan yang disebabkan oleh logam
merkuri. Keracunan merkuri secara kronis banyak ditemukan pada pekerja-pekerja
pertambangan emas karena untuk memurnikan emas menggunakan merkuri. Merkuri
dalam hal ini digunakan untuk menarik butiran-butiran emas dari batuan yang
telah diproses. Uap merkuri yang masuk lama kelaman akan mengendap atau
menumpuk dalam tubuh. Jika semakin banyak akan mulai menimbulkan gejala-gejala
keracunan.
D. TOKSISITAS
LOGAM BERAT YANG ADA DI TEMPAT KERJA
1) Timbal(Pb)
Timbal atau dalam keseharian
lebih dikenal dengan nama timah hitam. Dalam bahasa ilmiahnya dinamakan
Plumbum, dan logam ini disimbolkan dengan Pb. Logam ini termasuk kedalam kelompok
logam-logam golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia. Mempunyai unsur atom
(NA)82 dengan bobot atau berat atom (BA)207,2 (Anonim a, 2013).
Timbal merupakan bahan alami yang terdapat dalam kerak bumi. Timbal (Pb)
dimanfaatkan manusia untuk bahan pembuat baterai, membuat amunisi, produk logam
(logam lembaran, solder, dan pipa), perlengkapan medis (penangkal radiasi dan
alat bedah), cat, keramik, peralatan kegiatan ilmiah/praktek (papan sirkuit
(CB) untuk computer) untuk campuran minyak bahan-bakar untuk meningkatkan nilai
oktan (Wardhayani, 2006)
Logam
timbal (Pb) merupakan logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman serta
mudah dimurnikan dari pertambangan. Bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan Pb
ini adalah sering menyebabkan keracunan. Logam Pb dapat masuk ke dalam tubuh
melalui pernapasan, makanan, dan minuman.
Accidental poisoning seperti termakannya senyawa timbal dalam
konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan gejala keracunan timbal seperti iritasi
gastrointestinal akut, rasa logam pada mulut, muntah, sakit perut, dan
diare. Pb dapat mempengaruhi sistem saraf, inteligensia, dan pertumbuhan.
Pb di dalam tubuh menyebabkan hambatan pada aktivitas kerja sistem enzim. Efek
logam Pb pada kesehatan manusia adalah menimbulkan kerusakan otak,
kejang-kejang, gangguan tingkah laku, dan bahkan kematian.
Pada pengamatan yang dilakukan terhadap
para pekerja yang bekerja menangani senyawa Pb, tidak ditemukan keracunan
kronis yang berat. Gejala keracunan kronis ringan yang ditemukan berupa
insomnia dan beberapa macam gangguan tidur lainnya, sedangkan gejala pada kasus
keracunan akut ringan berupa penurunan tekanan darah dan berat badan. Keracunan
akut yang cukup berat dapat mengakibatkan koma bahkan kematian. Meskipun jumlah
Pb yang diserap oleh tubuh hanya sedikit, logam ini ternyata menjadi sangat
berbahaya. Hal itu disebabkan senyawa-senyawa Pb dapat memberikan efek racun
terhadap fungsi organ yang tedapat dalam tubuh.
Keracunan timbal akut jarang terjadi. Keracunan
timbal akut secara tidak sengaja yang pernah terjadi adalah karena timbal
asetat. Gejala keracunan akut mulai timbul 30 menit setelah meminum racun.
Berat ringannya gejala yang timbul tergantung pada dosisnya. Keracunan biasanya
terjadi karena masuknya senyawa timbal yang larut dalam asam atau inhalasi uap
timbal. Efek adstringen menimbulkan rasa haus dan rasa logam disertai rasa
terbakar pada mulut. Gejala lain yang sering muncul ialah mual, muntah
dengan muntahan yang berwarna putih seperti susu karena Pb Chlorida dan rasa
sakit perut yang hebat. Lidah berlapis dan nafas mengeluarkan bau yang menyengat.
Pada gusi terdapat garis biru yang merupakan hasil dekomposisi protein karena
bereaksi dengan gas Hidrogn Sulfida. Tinja penderita berwarna hitam
karena mengandung Pb Sulfida, dapat disertai diare atau konstipasi.
Sistem syaraf pusat juga dipengaruhi, dapat ditemukan gejala ringan berupa
kebas dan vertigo. Gejala yang berat mencakup paralisis
beberapa kelompok otot sehingga menyebabkan pergelangan tangan
terkulai ( wrist drop ) dan pergelangan kaki terkulai (foot drop).
Keracunan timbal dalam bentuk kronis lebih sering
terjadi dibandingkan keracunan akut. Keracunan timbal kronis lebih sering
dialami para pekerja yang terpapar timbal dalam bentuk garam pada berbagai
industri, karena itu keracunan ini dianggap sebagai penyakit industri. seperti
penyusun huruf pada percetakan, pengatur komposisi media cetak, pembuat huruf
mesin cetak, pabrik cat yang menggunakan timbal, petugas pemasang pipa
gas. Bahaya dan resiko pekerjaan itu ditandai dengan TLV 0,15 mikrogram/m3,
atau 0,007 mikrogram/m3 bila sebagai aerosol. Keracunan kronis juga dapat
terjadi pada orang yang minum air yang dialirkan melalui pipa
timbal, juga pada orang yang mempunyai kebiasaan menyimpan Ghee (sejenis
makanan di India) dalam bungkusan timbal. Keracunan kronis dapat mempengaruhi
system syaraf dan ginjal, sehingga menyebabkan anemia dan kolik, mempengaruhi
fertilitas, menghambat pertumbuhan janin atau memberikan efek kumulatif yang
dapat muncul kemudian.
·
Metabolisme
Timbal (Pb)
1.
Absorbsi
Pajanan timbal (Pb) dapat berasal dari makanan, minuman,
udara, lingkungan umum, dan lingkungan kerja yang tercemar timbal (Pb). Pajanan
non okupasional biasanya melalui tertelannya makanan dan minuman yang tercemar
timbal (Pb). Pajanan okupasional melalui saluran pernapasan dan saluran pencernaan
terutama oleh timbal (Pb) karbonat dan timbal (Pb) sulfat. Masukan timbal (Pb)
100 hingga 350 mikrogram/hari dan 20 mikrogram/hari diabsorbsi melalui inhalasi
uap timbal (Pb) dan partikel dari udara lingkungan kota yang polutif (DeRoos,
1997 dalam Ardyanto, 2005.).
Timah hitam dan senyawanya masuk ke dalam tubuh manusia
melalui saluran pernafasan dan saluran pencernaan, sedangkan absorbsi melalui
kulit sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Bahaya yang ditimbulkan oleh
timbal (Pb) tergantung oleh ukuran partikelnya. Partikel yang lebih kecil dari
10 mikrogram dapat tertahan di paruparu, sedangkan partikel yang lebih besar
mengendap di saluran nafas bagian atas. Absorbsi timbal (Pb) melalui saluran
pernafasan dipengaruhi oleh tiga proses yaitu deposisi, pembersihan mukosiliar,
dan pembersihan alveolar. Deposisi terjadi di nasofaring, saluran
trakeobronkhial, dan alveolus. Deposisi tergantung pada ukuran partikel timbal
(Pb) volume pernafasan dan daya larut. Partikel yang lebih besar banyak di deposit
pada saluran pernafasan bagian atas dibanding partikel yang lebih kecil (DeRoos
1997, dan OSHA, 2005 dalam Ardyanto, D, 2005.). Pembersihan mukosiliar
membawa partikel di saluran pernafasan bagian atas ke nasofaring kemudian di
telan.
Rata-rata 10–30% Pb yang terinhalasi diabsorbsi melalui
paru-paru, dan sekitar 5-10% dari yang tertelan diabsorbsi melalui saluran
cerna (Palar, 1994). Fungsi pembersihan alveolar adalah membawa partikel ke
ekskalator mukosiliar, menembus lapisan jaringan paru kemudian menuju kelenjar
limfe dan aliran darah. Sebanyak 30-40% timbal (Pb) yang di absorbsi melalui
saluran pernapasan akan masuk ke aliran darah. Masuknya timbal (Pb) ke aliran
darah tergantung pada ukuran partikel daya larut, volume pernafasan dan variasi
faal antar individu (Palar, 1994).
2. Distribusi dan penyimpanan
Timah hitam yang diabsorsi diangkut oleh darah ke organ-organ tubuh
sebanyak 95% timbal (Pb) dalam darah diikat oleh eritrosit. Sebagian timbal
(Pb) plasma dalam bentuk yang dapat berdifusi dan diperkirakan dalam
keseimbangan dengan pool timbal (Pb) tubuh lainnya dibagi menjadi dua
yaitu ke jaringan lunak (sumsum tulang, sistim saraf, ginjal, hati) dan ke
jaringan keras (tulang, kuku, rambut, gigi) (Palar, 1994). Gigi dan tulang
panjang mengandung timbal (Pb) yang lebih banyak dibandingkan tulang lainnya.
Pada gusi dapat terlihat lead line yaitu pigmen berwarna abu abu pada
perbatasan antara gigi dan gusi (Goldstein & Kipen, 1994 dalam Ardyanto,
2005.). Hal itu merupakan ciri khas keracunan timbal (Pb). Pada jaringan lunak
sebagian timbal (Pb) disimpan dalam aorta, hati, ginjal, otak, dan kulit. Timah
hitam yang ada dijaringan lunak bersifat toksik.
3. Ekskresi
Ekskresi timbal (Pb) melalui beberapa cara, yang terpenting adalah melalui
ginjal dan saluran cerna. Ekskresi timbal (Pb) melalui urine sebanyak 75–80%,
melalui feces 15% dan lainnya melalui empedu, keringat, rambut, dan kuku
(Palar,1994). Ekskresi timbal (Pb) melalui saluran cerna dipengaruhi oleh
saluran aktif dan pasif kelenjar saliva, pankreas dan kelenjar lainnya di
dinding usus, regenerasi sel epitel, dan ekskresi empedu. Sedangkan Proses
eksresi timbal (Pb) melalui ginjal adalah melalui filtrasiglomerulus.
·
Berikut dampak logam Pb pada
kesehatan :
a) Sistem Syaraf dan Kecerdasan
Efek Pb
terhadap sistem syaraf telah diketahui, terutama dalam studi kesehatan kerja
dimana pekerja yang terpajan kadar timbal yang tinggi dilaporkan menderita
gejala kehilangan nafsu makan, depresi, kelelahan, sakit kepala, mudah lupa,
dan pusing. Efek timbal terhadap kecerdasan anak memiliki
efek menurunkan IQ bahkan pada tingkat pajanan rendah. Studi lebih lanjut
menunjukkan bahwa kenaikan kadar timbal dalam darah di atas 20 μg/dl dapat
mengakibatkan penurunan IQ sebesar 2-5 poin.
b) Efek Sistemik
Kandungan Pb dalam darah yang terlalu tinggi (toksitas Timbal yakni di atas
30 ug/dl) dapat menyebabkan efek sistemik lainnya adalah gejala
gastro-intestinal. Keracunan timbal dapat berakibat sakit perut, konstipasi,
kram, mual, muntah, anoreksia, dan kehilangan berat badan. Pb juga dapat
meningkatkan tekanan darah. Intinya timbal ini dapat merusak fungsi organ.
c) Efek Terhadap Reproduksi
Pajanan Pb pada wanita di masa kehamilan telah dilaporkan dapat memperbesar
resiko keguguran, kematian bayi dalam kandungan, dan kelahiran prematur. Pada
laki-laki, efek Pb antara lain menurunkan jumlah sperma dan meningkatnya jumlah
sperma abnormal.
d) Pada Tulang
Pada tulang, ion Pb2+ logam
ini mampu menggantikan keberadaan ion Ca2+ (kalsium) yang terdapat pada
jaringan tulang. Konsumsi makanan tinggi kalsium akan mengisolasi tubuh dari
paparan Pb yang baru (Winarno 1993).
·
PENCEGAHAN
Terkena
timbal di tempat kerja bisa di cegah dengan mengurangi jumlah kontak timbal
dengan pekerja. Semua karyawan di timbal industry harus menyediakan petunjuk
perencanaan kontak dengan timbal untuk mengurangi terkenanya timbal kepada
pekerja mereka (WorkSafe BC 2006). Selanjutnya, tanda harus di pasang di tempat
kerja yang mengandung material yang berbahaya sebagai peringatan kepada pekerja
tentang daerah yang memiliki potensial bahaya. Di tambah lagi, pekerja harus
selalu mengenakan peralatan kemanan dan memastikan peralatan tersebut aman dan
berada pada kondisi yang bagus.
Terkena debu dan uap harus di
kurangi di tempat kerja (DHS 2010). Juga perlu untuk majikan menyediakan
training dan informasi untuk bekerja dengan aman dengan timbal dalam segala
kondisi apakah dalam keadaan darurat atau tidak (HSE UK 2009). Juga, majikan diminta
untuk memonitor kualitas udara dalam rangka untuk menentukan kadar terkena
timbal di lingkungan kerja. Jika kualitas udara di tempat kerja mengandung
timbal diatas 30 microgram per cubic meter (ug/m3), majikan harus menyediakan
tes kesehatan, termasuk didalamnya test kandungan timbal dalam darah setiap
enam bulan sekali (diizinkan di tempat kerja kontak dengan timbal di bawah 50
ug/m3). Jika majikan memiliki kadar timbal dalam darah tinggi, majikan harus
memindahkan pekerja tersebut untuk
bekerja di daerah yang tidak berhubungan dengan timbal. Dan menjamin pekrja
tersebut memperoleh haknya sama dengan pekerjaan mereka (DHS 2010).
2)
Kadmium (Cd)
Kadmium
(Cd) ini pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuan Jerman bernama Friedric
Strohmeyer pada tahun 1817. Logam Cd ini ditemukan dalam bebatuan calamine
(seng karbonat). Nama Kadmium sendiri diambil dari nama latin “calamine” yaitu
“cadmia”. Kadmium hampir selalu ditemukan dalam jumlah yang kecil dalam
bijih-bijih Seng, seperti sphalerite (ZnS). Greenocite (CdS) merupakan mineral
satu-satunya yang mengandung Kadmium. Hampir semua Kadmium diambil sebagai
hasil produksi dalam persiapan bijih-bijih Seng, Tembaga dan Plumbum.
Logam
berat ini bergabung bersama Timbal dan Merkuri sebagai the big three heavy metal
yang memiliki tingkat bahaya tertinggi pada kesehatan manusia. Menurut badan
dunia FAO/WHO, konsumsi per minggu yang ditoleransikan bagi manusia adalah
400-500 μg per orang atau 7 μg per kg berat badan. Kadmium juga berefek pada
potensial membran alga sel chara.
Kadmium
merupakan suatu logam sangat beracun yang secara umum dijumpai di tempat kerja
industri. Karena batas yang diperbolehkan rendah, pajanan berlebih dapat
terjadi bahkan dalam situasi di mana jumlah kadmium sangat kecil (renik)
ditemukan. Kadmium digunakan secara luas dalam electroplating, meskipun
sifat operasi umumnya tidak menyebabkan pajanan yang berlihan.
Kadmium juga
dijumpai dalam beberapa industri cat dan mungkin terdapat bahaya ketika
disemprotkan. Operasi meliputi penghilangan cat kadmium melalui penyerapan atau
peledakan dapat menimbulkan bahaya yang signifikan.
Kadmium juga
terdapat dalam pembuatan beberapa jenis baterai. Eksposur terhadap kadmium
dibahas dalam standar khusus untuk industri umum, pekerjaan galangan kapal,
industri konstruksi, dan industri pertanian.
3) Merkuri(Hg)
Merkuri (Hg) atau air raksa adalah logam yang
berwarna keperakan, berbentuk cairan tak berbau, dan mengkilap. Hg mempunyai
bentuk kimiawi yang berbeda-beda dalam menimbulkan keracunan pada mahluk hidup
sehingga menimbulkan gejala yang berbeda pula. Toksisitas Hg dalam hal ini
dibedakan menjadi dua bagian, yaitu toksisitas organik dan anorganik. Senyawa
tersebut sangat stabil dalam proses metabolisme dan mudah menginfiltrasi
jaringan yang sukar ditembus, misalnya otak dan plasenta. Senyawa tersebut
mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible,
baik pada orang dewasa maupun anak. Toksisitas Hg anorganik menyebabkan
penderita biasanya mengalami tremor. Jika terus berlanjut dapat menyebabkan
pengurangan pendengaran, penglihatan, atau daya ingat.
Dapat juga berakumulasi dan terbawa ke
organ-organ tubuh lainnya, menyebabkan bronchitis, sampai rusaknya paru-paru.
Gejala keracunan Merkuri tingkat awal, pasien merasa mulutnya kebal sehingga
tidak peka terhadap rasa dan suhu, hidung tidak peka bau, mudah lelah, gangguan
psikologi (rasa cemas dan sifat agresif), dan sering sakit kepala. Jika terjadi
akumulasi yang tinggi mengakibatkan kerusakan sel-sel saraf di otak kecil,
gangguan pada luas pandang, kerusakan sarung selaput saraf dan bagian dari otak
kecil. Turunan oleh Merkuri (biasanya etil merkuri) pada proses kehamilan akan
nampak setelah bayi lahir yang dapat berupa cerebral palsy maupun gangguan
mental. Sedangkan keracunan Merkuri yang akut dapat menyebabkan kerusakan
saluran pencernaan, gangguan kardiovaskuler, kegagalan ginjal akut maupun shock.
Merkuri adalah logam berat secara alami yang
terdapat di alam dan semakin besarnya emisi di alam akibat proses
industrialisasi karena merkuri (Hg) sangat besar manfaatnya. Sedangkan
keracunan atau intoksikasi adalah keadaan patologik yang disebabkan oleh obat,
serum, alkohol, bahan serta seyawa kimia toksik, dan lain (Sartono,2002 : 5).
Bebagai industri sekarang ini banyak menggunakan merkuri dalam proses
produksinya. Terlepas dari itu semua, merkuri tetap berbahaya bagi manusia
bahkan dikatan bersifat sangat toksik.
Pada penelitian yang dilakukan Husodo, dkk
(2005) di Desa Kalirejo Provinsi D.I Yogyakarta, menemukan bahwa pertambangan
emas di wilayah tersebut yang hasil pemeriksaan darahnya mengandung merkuri
ternyata juga menunjukkan keluhan-keluhan seperti tremor, sakit kepala, mual,
pelupa, diare dan sebagainya. Yang mana telah dijelaskan dalam bab sebelumnya
mengenai gejala-gejala keracunan merkuri baik akut maupun kronis. gejala-gejala
keracunan merkuri tampaknya dialami oleh pertambangan dan penduduk sekitar
lokasi penambangan. adanya keluhan-keluhan pada penambang dan penduduk sekitar
disebabkan oleh merkuri. Hal ini karena hasil pemeriksaan darah menunjukkan
bahwa pertambangan emas yang darahnya mengandung merkuri sekitar 76,92%
dibandingkan dengan penduduk yang sampel darahnya mengandung merkuri sekitar
56,18 % (Husodo.dkk,2005).
Selain pada bidang pertambangan emas, kasus kontaminasi
merkuri (Hg) juga terjadi di bidang kedokteran dalam hal ini adalah kedokteran
gigi. Pada kasus ini, mekuri (Hg) digunakan sebagai bahan tambal amalgam gigi
dan peneliti ingin melihat hubungan tambal amalgam gigi dengan kadar merkuri
(Hg) dalam urin. Dalam pembahasannya, terlihat bahwa pasien dengan kadar
merkuri atau air raksa (Hg) dalam urin > 4 µg/L sebanyak 92,5%, yang
menunjukkan dari seluruh responden hampir semuanya sudah terancam penyakit yang
diakibatkan oleh kadar merkuri dalam tubuh (Soemadi).
Keracunan
akut yang disebabkan oleh logam merkuri umumnya terjadi pada pekerja-pekerja
industri, pertambangan, dan pertanian, yang menggunakan merkuri sebagai bahan
baku, katalis dan pembentuk amalgam atau pestisida. Keracunan akut yang
ditimbulkan oleh logam merkuri dapat diketahui dengan mengamati gejala-gejala
berupa : Peradangan pada tekak (pharyngitis), dyspaghia, rasa sakit pada bagian
perut, mual-mual dan muntah, murus disertai dengan darah dan shok. Bila
gejala-gejala awal ini tidak segera diatasi, penderita selanjutnya akan
mengalami pembengkakan pada kelenjar ludah, radang pada ginjal (nephritis), dan
radang pada hati (hepatitis).
Keracunan
kronis terjadi secara perlahan dan berlangsung dalam selang waktu yang panjang.
Penderita keracunan kronis biasanya tidak menyadari bahwa dirinya telah
menumpuk sejumlah racun dalam tubuh mereka, sehingga pada batas daya tahan yang
dimiliki tubuh, racun yang telah mengendap dalam selang waktu yang panjang
tersebut bekerja. Pengobatan akan menjadi sangat sulit untuk dilakukan.
Keracunan kronis yang disebabkan oleh merkuri, peristiwa masuknya sama dengan
keracunan akut, yaitu melalui jalur pernafasan dan makanan. Akan tetapi pada
peristiwa keracunan kronis, jumlah merkuri yang masuk sangat sedikit sekali sehingga
tidak memperlihatkan pengaruh pada tubuh. Namun demikian masuknya merkuri ini
berlangsung secara terus-menerus. Sehingga lama kelamaan jumlah merkuri yang
masuk dan mengendap dalam tubuh menjadi sangat besar dan melebihi batas
toleransi yang dimiliki tubuh sehingga gejala keracunan mulai terlihat.
Pada
peristiwa keracunan kronis oleh merkuri, ada dua organ tubuh yang paling sering
mengalami gangguan, yaitu gangguan pada sistem pencernaan dan sistem syaraf.
Radang gusi (gingivitis) merupakan gangguan paling umum yang terjadi pada
sistem pencernaan. Radang gusi pada akhirnya akan merusak jaringan penahanan
gigi, sehingga gigi mudah lepas. Tanda-tanda seorang penderita keracunan kronis
merkuri dapat dilihat pada organ mata. Biasanya pada lensa mata penderita
terdapat warna abu-abu sampai gelap atau abu-abu kemerahan yang semua itu dapat
dilihat dengan mikroskop mata. Di samping itu, gejala keracunan kronis merkuri
yang lainnya dapat berupa anemia ringan pada darah.
·
PENCEGAHAN
Bila memungkinkan, merkuri hendaknya dikelola dalam
sistem bersekat rapat dan higine yang ketat hendaknya ditekankan di tempat
kerja. Lebih lanjut, penting pula dicegah :
1. Terlepasnya
merkuri dari container
2. Penyebaran
percikan merkuri di udara
3. Infiltrasi
merkuri pada retakan dan celah-celah lantai atau meja kerja (ini menyebabkan
penguapan yang berlangsung lama).
Uap merkuri dan debu yang mengandung senyawa merkuri
hendaknya ditekan dengan langkah-langkah pengendalian teknis. Pada keadaan
darurat termasuk pajanan terhadap kadar merkuri yang tinggi, peralatan
pelindung nafas hendaknya dipakai. Batas-batas pajanan unsur merkuri berbeda di
berbagai negara antara 0,01 mg/m3 hingga 0,05 mg/m3. Batasan paparan
berdasarkan kesehatan yang dianjurkan oleh suatu Kelompok Studi WHO adalah 25 µg/g
kreatinin dalam kemih.
Pencegahan bila mungkin adalah substitusi merkuri
dengan bahan lain yang kurang berbahaya. Satu contoh substitusi, pembuatan
cermin yang dulu memakai amalgam timah putih diubah dengan menggunakan larutan
amoniakal perak nitrat, dan ternyata cermin yang dihasilkan lebih baik.
Pencegahan harus dijalankan di tambang-tambang tempat bijih merkuri diambil,
yaitu dengan ventilasi, pengeboran basah, dan pemakaian masker yang dapat
menahan uap merkuri. Di pabrik-pabrik yang membuat barometer dan termometer,
lantai harus rata, licin, tidak boleh retak sehingga kalau terjadi penumpahan
merkuri akan segera dapat dibersihkan.
Ventilasi umum di pabrik-pabrik yang menggunakan
merkuri tidaklah baik, karena ventilasi memperhebat terjadinya penguapan merkuri.
Pemeriksaan kesehatan berkala, permasuk pemeriksaan gigi dan mulut sangat
membantu dalam menentukan keracunan sedini mungkin (Lubis,2002).
4) Arsenik
(As)
Arsen
(As) atau sering disebut arsenik dapat merusak ginjal dan bersifat racun yang
sangat kuat. Senyawa arsen sangat sulit dideteksi karena tidak memiliki rasa
yang khas atau ciri-ciri pemaparan lain yang menonjol. Gejala keracunan senyawa
arsen terutama adalah sakit di kerongkongan, sukar menelan, disertai rasa nyeri
lambung dan muntah-muntah. Kompensasi dari pemaparan arsen terhadap manusia
adalah kanker, terutama kanker paru-paru dan hati. Terpapar arsen di udara juga
dapat menyebabkan pembentukan kanker kulit pada manusia.
Selain itu arsen dapat juga mengganggu daya
pandang mata, hiperpigmentasi (kulit menjadi berwarna gelap), hiperkeratosis
(penebalan kulit), pencetus kanker, infeksi kulit (dermatitis). Selain itu,
dapat menyebabkan kegagalan fungsi sumsum tulang, menurunnya sel darah,
gangguan fungsi hati, kerusakan ginjal, gangguan pernafasan, kerusakan pembuluh
darah, varises, gangguan sistem reproduksi, menurunnya daya tahan tubuh, dan gangguan
saluran pencernaan.
Toksisitas
senyawa arsenik sangat bervariasi. Minimal dosis akut arsenik yang mematikan
pada orang dewasa diperkirakan 70-200 mg atau 1 mg/kg/hari. Sebagian besar
melaporkan keracunan arsenik tidak disebabkan oleh unsur arsenik, tapi oleh
salah satu senyawa arsen, terutama arsenik trioksida, yang sekitar 500 kali
lebih beracun daripada arsenikum murni.
·
Dampak Toksisitas
Arsen.
Sekitar 90% arsen yang diabsorbsi
dalam tubuh manusia tersimpan dalam hati,ginjal,dinding saluaran
pencernaan,limfa, dan paru.Juga tersimpan dalam jumlah sedikit dalam rambut dan
kuku serta dapat terdeteksi dalam waktu lama, yaitu beberapa tahun setelah keracunan
kronis.Di dalam darah yang normal ditemukan arsen 0,2µg/100ml. sedangkan pada
kondisi keracunan ditemukan 10µg/100ml dan pada oarng yang mati keracunan arsen
ditemukan 60-90µg/100ml.
·
PENCEGAHAN TERJADINYA
PAPARAN ARSEN
Usaha pencegahan terjadinya paparan
arsen secara umum adalah pemakaian alat proteksi diri bagi semua individu
yang mempunyai potensi terpapar oleh arsen. Alat proteksi diri tersebut
misalnya :
-
Masker yang memadai
-
Sarung tangan yang memadai
-
Tutup kepala
-
Kacamata khusus
Usaha pencegahan lain adalah
melakukan surveilance medis, yaitu pemeriksaan kesehatan dan laboratorium yang
dilakukan secara rutin setiap tahun. Jika keadaan dianggap luar biasa, dapat
dilakukan biomonitoring arsen di dalam urine.
Usaha pencegahan agar lingkungan kerja terbebas dari kadar arsen yang berlebihan adalah perlu dilakukan pemeriksaan kualitas udara (indoor), terutama kadar arsen dalam patikel debu. Pemeriksaan kualitas udara tersebut setidaknya dilakukan setiap tiga bulan. Ventilasi tempat kerja harus baik, agar sirkulasi udara dapat lancar.
Usaha pencegahan agar lingkungan kerja terbebas dari kadar arsen yang berlebihan adalah perlu dilakukan pemeriksaan kualitas udara (indoor), terutama kadar arsen dalam patikel debu. Pemeriksaan kualitas udara tersebut setidaknya dilakukan setiap tiga bulan. Ventilasi tempat kerja harus baik, agar sirkulasi udara dapat lancar.
·
Menanggulangi Toksisitas Arsen
Pada kasus keracunan akut, perlu segera diberi obat
suportif dan simptomatik untuk mencegah terjadinya gejala neuropati. Pengobatan
dengan pemberian khelasi spesifik yaitu BAL. Standar pemberian BAL ialah 3-5
mg/kg yang diberikan setiap 4 jam selama 2 hari diikuti dengan pemberian 2,5
mg/kg setiap 6 jam selama 2 hari. Kemudian diberikan 2,5 mg/kg setiap 12 jam
selama 1 minggu. Pada periode pemberian pengobatan tersebut, sampel urine
diperiksa setiap 24 jam dan pengobatan segera dihentikan jika konsentrasi As
dalam urine kurang dari 50 mg. pengobatan BAL sering diikuti dengan pemberian
penisilamin yang diberikan setiap 6 jam selama 5 hari.
Pada kasus keracunan kronis, tindakan pertama yang
dilakukan ialah menghilangkan sumber kontaminasi dari penderita. Pengobatan
sistem kelasi tidak dianjurkan, karena As mempunyai waktu paruh biologik hanya
sekitar 3-4 hari.
5) Chromium
(Cr)
Pada tahun 1797, analis dari
Prancis, yang bernama Louis-Nicholas Vauquelin menemukan “kromium“. Namun
sebelumnya, Vauquelin menganalisis zamrud dari Peru dan menemukan bahwa warna
hijau adalah karena adanya unsur baru, yaitu kromium.
Bahkan, nama kromium berasal dari
kata Yunani “kroma” yang berarti “warna”, dinamakan demikian karena banyaknya
senyawa berwarna berbeda yang diperlihatkan oleh kromium Satu atau dua tahun
kemudian seorang kimiawan dari Jerman, Tassaert yang bekerja di Paris menemukan
kromium dalam bijih Kromit, Fe(CrO2)2, yang merupakan
sumber utama kromit hingga sekarang.
Pada pertengahan abad ke-18
seorang analisis dari Siberia menunjukkan bahwa kromium terdapat cukup banyak
dalam senyawa PbCrO4, tetapi juga terdapat dalam senyawa lain. Ini
akhirnya diidentifikasi sebagai kromium oksida. Kromium oksida ditemukan pada
1797 oleh Louis-Nicholas Vauquelin.
Kromium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik
yang memiliki lambang Cr dan nomor atom 24. (Wikipedia)
Kromium adalah sebuah unsur kimia
dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cr dan nomor atom 24. Khrom juga
berwarna abu-abu, berkilau, keras sehingga memerlukan proses pemolesan yang
cukup tinggi.
Khromium (Cr) adalah metal kelabu
yang keras. Khromium terdapat pada industri gelas, metal, fotografi, dan
elektroplating. Dalam bidang industri, khromium diperlukan dalam dua bentuk,
yaitu khromium murni dan aliasi besi-besi khromium yang disebut ferokromium sedangkan
logam khromium murni tidak pernah ditemukan di alam. Khromium sendiri
sebetulnya tidak toksik, tetapi senyawanya sangat iritan dan korosif. Inhalasi
khromium dapat menimbulkan kerusakan pada tulang hidung. Di dalam paru-paru,
khromium ini dapat menimbulkan kanker. Sebagai logam berat, khrom termasuk
logam yang mempunyai daya racun tinggi. Daya racun yang dimiliki oleh khrom
ditentukan oleh valensi ionnya. Logam Cr6+ merupakan bentuk yang paling banyak
dipelajari sifat racunnya dikarenakan Cr6+ merupakan toxic yang sangat kuat dan
dapat mengakibatkan terjadinya keracunan akut dan keracunan kronis. (Soemirat,
2002).
·
Keracunan Akut
1.
Bila terhirup / inhalasi
Bila debu atau uap
kromium terhirup pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan iritasi.
2.
Bila kontak dengan kulit
Kontak
langsung dengan debu atau serbuk kromium dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
3.
Bila kontak dengan mata
Kontak
langsung dengan debu atau serbuk kromium dapat menyebabkan iritasi pada mata.
4.
Bila tertelan
Logam kromium sangat
sulit diabsorbsi melalui saluran pencernaan. Absorbsi dalam jumlah yang cukup
dari beberapa senyawa kromium dapat menyebabkan pusing, haus berat, sakit
perut, muntah, syok, oliguria atau anuria dan uremia yang mungkin bisa fatal.
·
Keracunan Kronis
1. Bila terhirup / inhalasi
Paparan berulang dalam
jangka waktu yang lama dari beberapa senyawa kromium dilaporkan menyebabkan
borok (ulcerasi) dan berlobang (perforasi) pada nasal septum, iritasi pada
tenggorokan dan saluran pernafasan bagian bawah, gangguan pada saluran
pencernaan, tapi hal ini jarang terjadi, gangguan pada darah, sensitisasi paru,
pneumoconiosis atau fibrosis paru dan efek pada hati hal ini jarang terjadi.
Pada hakekatnya efek ini belum pernah dilaporkan terjadi akibat paparan logam.
2.
Bila kontak dengan kulit.
Paparan berulang dalam
jangka waktu yang lama dari beberapa senyawa kromium dilaporkan menyebabkan
berbagai tipe dermatitis, termasuk eksim “Chrome holes” sensitisasi dan
kerusakan kulit dan ginjal. Pada hakekatnya efek ini belum pernah dilaporkan
akibat paparan logam.
3.
Bila kontak dengan mata
Paparan berulang dalam
jangka waktu yang lama untuk beberapa senyawa krom dapat menyebabkan radang
selaput mata (konjungtivities) dan lakrimasi. Pada hakekatnya efek ini belum
pernah dilaporkan akibat paparan logam.
Untuk mengurangi pencemaran Cr,
lakukan beberapa hal berikut:
1. Memaksimalkan
ekstraksi secara efisien, Cr dari kromit dan
meminimalisasikan limbah Cr.
2. Menerapkan
teknologi hemat penggunaan bahan baku Cr.
3. Mengurangi limbah Cr serta tindakan mendaur ulang
limbah Cr sehingga pencegahan pencemaran Cr akan memeberikan keuntungan antara
lain mengurangi biaya produksi,
meningkatkan keamanan pekerja, meningkatkan produktivitas serta meningkatkan
perlindungan lingkungan.
Pencegahan pencemaran Cr untuk industry bisa dilakukan
dengan beberapa langkah, yaitu:
1. Subsitusi
bahan baku kromium dengan mengganti dengan bahan lain yang kurang atau tidak
toksik, mengurangi limbah cat dan mendaur ulang limbah cat mebjadi bahan
bangunan, misalnya lantai keramik atau aspal.
2. Pengembangan
proses industry dengan mengurangi penggunaan bahan baku kromium serta
mengurangi limbah kromium
3. Perubahan
jenis produksi atau melakukan redesign dengan mengurangi bahan baku pigmen
kromium yang diganti dengan organic
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Toksisitas logam adalah terjadinya keracunan dalam tubuh manusia yang diakibatkan oleh bahan
berbahaya yang mengandung logam beracun. Zat-zat beracun dapat masuk ke
dalam tubuh manusia melalui pernapasan, kulit, dan mulut. Pada umumnya, logam terdapat di
alam dalam bentuk batuan, bijih tambang, tanah, air,
dan udara.[2] Macam-macam logam beracun yaitu raksa/merkuri (Hg), kromium (Cr), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timah (Sn), nikel (Ni), arsene (As), kobalt (Co), aluminium (Al), besi (Fe), selenium (Se), dan zink (Zn).[3] Walaupun kadar logam dalam tanah,
air, dan udara rendah, namun dapat meningkat apabila manusia menggunakan
produk-produk dan peralatan yang mengandung logam, pabrik-pabrik yang
menggunakan logam, pertambangan logam, dan pemurnian logam.[3] Contohnya penggunaan 25.000-125.000
ton raksa per tahun pada pabrik termometer, spigmanometer, barometer, baterai, saklar elektrik, dan peralatan elektronik.
Logam berat adalah bahan-bahan alami yang berasal dan termasuk
bahan penyusun lapisan tanah bumi. Logam berat tidak dapat diurai
atau dimusnahkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh mahluk hidup melalui
makanan, air minum, dan udara. Logam berat berbahaya karena cenderung
terakumulasi di dalam tubuh mahluk hidup. Laju akumulasi logam-logam berat ini
di dalam tubuh pada banyak kasus lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk
membuangnya. Akibatnya keberadaannya di dalam tubuh semakin tinggi, dan dari
waktu ke waktu memberikan dampak yang makin merusak.
B. Saran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar